Lirik Potensi Nanas Himba Lestari, OJK Kaltim Dorong Pengembangan Industri Tekstil Daun Nanas

BATU AMPAR. Lirik Potensi Nanas Himba Lestari, OJK Kaltim Dorong Pengembangan Industri Tekstil Daun Nanas – Komoditas nanas di Desa Himba Lestari, Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), terus berpeluang dikembangkan menjadi salah satu produk unggulan daerah. Tidak hanya berfokus pada penjualan buah segar, potensi ini kini dilirik untuk hilirisasi industri tekstil berbahan dasar serat daun nanas.

 

Dukungan pengembangan tersebut salah satunya datang dari Kantor Perwakilan Otorita Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Timur. Perwakilan OJK secara langsung meninjau hamparan perkebunan nanas di Desa Himba Lestari yang diperkirakan mencapai luas sekitar 80 hektare.

 

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim melalui Kepala Bidang Industri, Achmad Dony Erviady, menyampaikan bahwa peninjauan lapangan yang dilakukan bersama tim OJK merupakan langkah awal untuk mendata potensi serta membuka peluang investasi.

 

“Turunan dari komoditas nanas ini sangat banyak, jadi jangan sampai hanya dijual buah mewahnya saja. Kami mendorong adanya nilai tambah (added value) yang dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan para petani,” ujar Dony saat dikonfirmasi, Kamis (1/10/2026).

 

Menurut Dony, perwakilan OJK memberikan respons yang sangat positif selama kunjungan. Selain cita rasa buah nanas Himba Lestari yang manis dan khas, peluang pemanfaatan limbah daun nanas sebagai serat benang industri tekstil menjadi daya tarik utama.

 

Sebagai tindak lanjut, OJK berencana menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) terkait serta mengundang investor potensial untuk menggarap sektor hortikultura ini secara komprehensif.

 

Guna mendukung percepatan hilirisasi tersebut, pemerintah kecamatan setempat telah menyiapkan lahan seluas 1,5 hektare yang rencananya dialokasikan sebagai lokasi Rumah Produksi Bersama (RPB).

 

Di sisi lain, Disperindag Kutim juga tengah bersiap menyusun kajian akademis bekerja sama dengan perguruan tinggi. Kajian ini nantinya memetakan secara menyeluruh aspek produksi, kebutuhan sarana-prasarana, skema pembiayaan, pengolahan, hingga rantai pemasaran produk turunan nanas.

 

“Para petani merespons positif rencana ini. Kami tidak ingin petani kehilangan semangat hanya karena menjual produk mentah. Komoditas yang sudah menjadi ikon desa ini harus kita pertahankan dan tingkatkan nilainya,” pungkas Dony. (adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *