Perkuat Eliminasi TB 2030, KPC dan Dinkes Kutim Bekali Kader PMO Teknik Komunikasi Efektif

SANGATTA. Perkuat Eliminasi TB 2030, KPC dan Dinkes Kutim Bekali Kader PMO Teknik Komunikasi Efektif – Sebagai bentuk komitmen dalam mempercepat eliminasi tuberkulosis (TB) pada 2030, PT Kaltim Prima Coal (KPC) menggelar workshop pembekalan kapasitas bagi kader Pengawas Menelan Obat (PMO) TB. Kegiatan yang diikuti oleh belasan kader dari wilayah Sangatta Utara dan Sangatta Selatan ini berlangsung di Pendopo Rumah Jabatan Bupati Kutai Timur (Kutim), Kamis (24/9/2026).

 

Acara tersebut dibuka secara resmi oleh Ketua Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Kutim, Siti Robiah, serta dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim dr. Yuwana Sri Kurniawati dan Superintendent Community Health and Education KPC, Febriana Kurniasari.

 

Workshop ini dirancang khusus untuk memperkuat kemampuan personal dan interpersonal para kader, mengingat tugas pendampingan pasien TB tidak sekadar mengingatkan jadwal minum obat, tetapi juga membutuhkan pendekatan emosional, empati, dan ketekunan.

 

Ketua PPTI Kutim, Siti Robiah, menekankan pentingnya sinergi dan regenerasi berkelanjutan di tingkat kader demi mencapai target bebas TB di kawasan Kutim.

 

“Kader senior diharapkan merangkul dan mendampingi kader yang baru agar terjadi akselerasi serta memiliki frekuensi yang sama. Kita semua membawa misi bersama, yaitu eliminasi TB pada tahun 2030,” tegas Siti Robiah.

 

Pada sesi materi, para kader dibekali kecakapan khusus dalam hal penyuluhan publik melalui materi bertajuk Teknik Berkomunikasi dalam Melakukan Penyuluhan yang disampaikan oleh Fathkullah Khasabi Algifari, Owner Ziza Gift.

 

Kepala Dinkes Kutim, dr. Yuwana Sri Kurniawati, mengapresiasi pembaruan materi komunikasi tersebut. Menurutnya, pemahaman gaya komunikasi yang tepat sangat menentukan tingkat kenyamanan dan kepatuhan pasien dalam menyelesaikan masa pengobatan TB yang relatif panjang.

 

“Pengetahuan kader perlu terus diperbarui (update) agar pola komunikasi dengan masyarakat dan pasien lebih fleksibel. Dengan komunikasi yang humanis, pasien merasa aman dan nyaman selama menjalani proses penyembuhan,” jelas Yuwana.

 

Selain pemaparan teori, kegiatan dilanjutkan dengan Focus Group Discussion (FGD) berformat problem mapping dan problem solving. Para peserta dibagi ke dalam enam kelompok untuk membedah studi kasus nyata di lapangan, kemudian melakukan rotasi (rolling) kelompok guna membagikan solusi berbasis pengalaman antarkader.

 

Superintendent Community Health and Education KPC, Febriana Kurniasari, menjelaskan bahwa program pembinaan berkala ini berfungsi menjaga kesinambungan program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) berbasis masyarakat sekaligus memberikan apresiasi atas dedikasi para kader.

 

“Mengingat keanggotaan kader selalu dinamis setiap tahunnya, pembinaan dan regenerasi menjadi hal yang krusial. Kegiatan ini juga menjadi bentuk reward agar para kader tetap semangat menjalankan tugas sosial di tengah komunitas,” pungkas Febriana.

 

Rangkaian acara ditutup dengan sesi ice breaking dan outbound games berkelompok guna mempererat tali silaturahmi serta membangun soliditas jejaring kader di lapangan. Melalui penguatan kapasitas ini, KPC berharap kader PMO TB dapat terus menjalankan peran strategis sebagai jembatan penghubung antara pasien, tenaga kesehatan, pemerintah, dan swasta secara optimal. (adv)

https://imagetourls.com/id/v?u=https%3A%2F%2Fcdn.imagetourls.com%2Fuploads%2FtyImg%2F11oiawDW2.png

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *