Disdikbud Kutim Dorong Pelajar Generasi Muda Lestarikan Sejarah Lokal Lewat Konten Digital

SANGATTA. Disdikbud Kutim Dorong Pelajar Generasi Muda Lestarikan Sejarah Lokal Lewat Konten Digital – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) meluncurkan langkah inovatif untuk mengenalkan sejarah lokal kepada generasi muda melalui pemanfaatan teknologi. Melalui Bidang Kebudayaan, Disdikbud Kutim menggelar Workshop Storytelling dan Digital Content Sejarah Lokal di Resto Zenova, Sangatta.

 

Sebanyak 15 pelajar tingkat SMA, SMK, dan MA yang berasal dari Kecamatan Sangatta Utara, Sangatta Selatan, hingga Sangkulirang berpartisipasi dalam pelatihan ini. Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari jurnalis Kaltim Today, Alisa Deliana, guna membekali para peserta teknik mengemas narasi sejarah menjadi konten digital yang menarik dan relevan bagi kaum muda.

 

Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menegaskan bahwa workshop ini bukan sekadar ajang melatih keterampilan bercerita, melainkan bagian dari strategi besar dalam memperkuat pengelolaan sejarah dan pemajuan kebudayaan di Kutai Timur.

 

Menurut Mulyono, pengemasan sejarah lokal ke dalam format digital sangat efektif untuk memperluas jangkauan edukasi publik. Ke depan, materi pelatihan tidak hanya berfokus pada sejarah, tetapi juga dikembangkan mencakup cagar budaya, pesta adat, hingga potensi pariwisata daerah.

 

“Kegiatan hari ini adalah cikal bakalnya. Kita akan terus kembangkan dan perkuat sejarah lokal Kutai Timur melalui konten digital serta storytelling,” ujar Mulyono.

 

Ia menambahkan, jika dikelola secara berkelanjutan, konten sejarah dan budaya berbasis digital ini tidak hanya berfungsi sebagai media pendidikan, tetapi juga mendukung promosi daerah yang berdampak positif pada kesejahteraan masyarakat.

 

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim, Ilham, menyampaikan bahwa keterlibatan siswa SMA ini merupakan tahap awal dari program yang rencananya akan diperluas ke jenjang SMP hingga SD.

 

“Harapan kami, kegiatan storytelling ini menjadi langkah awal bersama. Saat ini dimulai dari jenjang SMA, dan nantinya menyasar jenjang SMP serta SD,” tutur Ilham.

 

Melalui pendekatan teknologi dan media digital, narasi mengenai sejarah, budaya, serta identitas daerah diharapkan tidak sekadar menjadi arsip statis, melainkan terus hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang. (adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *