Terbentur Aturan Usia Atlet Porprov 2026, Pemkab Kutim Genjot Regenerasi hingga Pelosok Kecamatan

SANGATTA. Terbentur Aturan Usia Atlet Porprov 2026, Pemkab Kutim Genjot Regenerasi hingga Pelosok Kecamatan — Pembatasan usia maksimal atlet hingga 30 tahun pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kaltim 2026 di Paser menjadi tantangan serius bagi Kontingen Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Regulasi baru ini memaksa Pemerintah Kabupaten Kutim bersama KONI untuk mempercepat regenerasi atlet dan memperluas penjaringan bakat hingga ke tingkat kecamatan.

 

Hal tersebut ditegaskan Wakil Bupati Kutim Mahyunadi usai membuka Pelatihan Pembuatan Aplikasi dan Website serta Digitalisasi Atlet Kutim di Kantor KONI Kutim, Senin (21/9/2026).

 

Mahyunadi mengungkapkan, sejumah atlet senior yang sebelumnya diproyeksikan mendulang medali kini terganjal aturan batas usia. Kondisi ini menjadi sinyal kuat bahwa pembinaan olahraga tidak bisa lagi bergantung pada atlet lama, melainkan harus berbasis pengembangan usia dini yang berkelanjutan.

 

“Banyak atlet yang sudah kita siapkan justru tidak bisa bertanding karena terbentur batasan usia. Perubahan regulasi ini menunjukkan betapa pentingnya menyiapkan stok atlet muda dari jauh-jauh hari,” ujar Mahyunadi.

 

Ia mengakui, daerah lain seperti Balikpapan relatif lebih siap menghadapi perubahan regulasi ini karena telah lama memiliki ekosistem pembinaan usia dini melalui akademi dan sekolah cabang olahraga. Kendati demikian, Mahyunadi optimistis Kutim mampu mengejar ketertinggalan dengan memanfaatkan potensi wilayahnya yang luas.

 

“Geografis Kutim yang luas justru menjadi modal besar. Penjaringan atlet tidak boleh hanya terpusat di Sangatta, tetapi harus menjangkau seluruh kecamatan hingga daerah pelosok,” tegasnya.

 

Untuk mendukung target masuk jajaran dua atau tiga besar pada Porprov Kaltim 2026, Pemkab Kutim memastikan ketersediaan anggaran pembinaan olahraga berada dalam kondisi siap (ready). Namun, Mahyunadi memberi catatan kritis agar proses rekrutmen atlet dilakukan secara objektif dan bebas dari intervensi politik.

 

“Anggaran kita siap, itu menjadi salah satu keunggulan utama kita. Tetapi saya minta proses seleksi benar-benar mengedepankan kualitas dan potensi atlet. Lepaskan ego politik, utamakan kemampuan dan bakat murni masyarakat penggiat olahraga Kutim,” tambahnya.

 

Langkah pembinaan berbasis kecamatan sejatinya mulai membuahkan hasil. Pelatih Cabang Olahraga Cricket Kutim, Gilang, menuturkan bahwa skuad cricket Kutim untuk Porprov 2026 sepenuhnya diisi oleh atlet hasil pembinaan dari tingkat kecamatan.

 

“Seluruh atlet cricket Kutim yang dipersiapkan untuk Porprov Kaltim 2026 di Paser merupakan hasil pembinaan murni dari kecamatan. Model penjaringan seperti ini terbukti efektif dan layak diterapkan di cabang olahraga lainnya,” kata Gilang.

 

Dengan memadukan dukungan anggaran yang kuat, transparansi rekrutmen, dan perluasan jangkauan ke kecamatan, Pemkab Kutim optimistis dapat membangun fondasi olahraga daerah yang tangguh, mandiri, serta tidak bergantung pada atlet luar daerah. (adv)

https://imagetourls.com/id/v?u=https%3A%2F%2Fcdn.imagetourls.com%2Fuploads%2FtyImg%2F11oiawDW2.png

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *