Disdikbud Kutim Siapkan Program Wajib Belajar 13 Tahun Ditarget Menerap pada 2027
SANGATTA. Disdikbud Kutim Siapkan Program Wajib Belajar 13 Tahun Ditarget Menerap pada 2027 — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tengah menyiapkan implementasi program Wajib Belajar 13 Tahun yang diproyeksikan berlaku mulai 2027. Kebijakan ini memperluas skema wajib belajar 12 tahun dengan menambahkan satu tahun Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) atau Taman Kanak-Kanak (TK) sebelum jenjang sekolah dasar.
Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menyatakan bahwa penambahan jenjang PAUD bertujuan memperkuat fondasi karakter, sosial, emosional, dan kesiapan akademik anak.
“Tujuan utamanya memberikan kepastian pendidikan sejak usia dini. Dengan fondasi yang kuat, anak-anak lebih siap mengikuti pembelajaran di jenjang berikutnya,” ujar Mulyono saat ditemui wartawan di ruang kerjanya.
Infrastruktur dan Penyebaran Lembaga PAUD
Guna mendukung kebijakan ini, Disdikbud mencatat kesiapan sarana pendidikan anak usia dini di wilayah Kutim telah tersebar hingga ke tingkat desa.
– Cakupan Wilayah: Seluruh 139 desa dan dua kelurahan di Kabupaten Kutim kini telah memiliki minimal satu satuan PAUD.
– Jumlah Lembaga: Total lembaga PAUD di Kutim telah mencapai lebih dari 300 unit.
Pemerataan ini diharapkan dapat mempermudah akses pendidikan bagi masyarakat di wilayah pedalaman, yang diikuti dengan peningkatan kualitas tenaga pendidik serta sarana prasarana secara berkesahut.
Payung Hukum dan Rencana Sosialisasi
Pelaksanaan teknis Wajib Belajar 13 Tahun saat ini masih menanti penyelesaian payung hukum berupa Peraturan Bupati (Perbup). Setelah Perbup disahkan, Disdikbud akan memproses tahap lanjutan:
1. Sosialisasi Bertahap: Menjangkau pemerintah desa, satuan pendidikan, penyelenggara PAUD, hingga orang tua murid.
2. Pendataan dan Pemetaan: Melakukan pemetaan kebutuhan layanan, penguatan lembaga, dan koordinasi dengan pemerintah desa agar seluruh anak usia dini terdaftar.
Bagian dari Strategi SDM Berkelanjutan
Kebijakan ini dirancang terintegrasi dengan program pendidikan Pemkab Kutim lainnya, termasuk perluasan akses beasiswa hingga jenjang perguruan tinggi.
“Pendidikan bukan sekadar ruang belajar, melainkan pelita pembawa arah pembangunan. Melalui pendidikan berkualitas sejak usia dini hingga perguruan tinggi, kami optimistis lahir generasi Kutai Timur yang unggul dan berdaya saing,” tutup Mulyono. (adv)
